Jatuh Untuk Belajar

hikmahteladan.com Assalamua’alaiakum sahabat hikmah, jika sebelumnya kami menyampaikan tentang air zam-zam yang tidak pernah surut, saat ini kami akan sharing tentang bagaimana kita jatuh. Tidak Jatuh Adalah Hal Yang Tidak Wajar “Bagi sebagian orang terjatuh atau melakukan kesalahan adalah sesuatu hal yang wajar seperti halnya perkataan seorang pujangga yang mengibaratkan jalan kehidupan yang suatu saat akan mengalami kesulitan sebagaimana pandainya se-ekor tupai yang melompat yang suatu saat akan terjatuh juga.

Terdapat hitungan matematis akan jatuhnya seseorang dan jawaban atas batas kewajarannya, jika saja semua orang mau belajar dan memikirkan serta memahami setiap kejadian  dalam perjalanan kehidupannya, namun bukan berarti ini adalah hal yang pasti karena ini semata – mata saya buat adalah karena untuk pedoman agar lebih berhati hati saja.

Berikut adalah sedikit catatan tentang batas kewajaran seseorang dalam menjalani kehidupan.

1. Jatuh Sekali : wajar …..

Jatuh adalah hal yang wajar bagi setiap orang sebagaimana wajarnya kita terjatuh saat pertama kali belajar berjalan dan berlari atau mengendari sepeda, bayi yang sedang belajar berjalan , dan sebagainya.

2. Jatuh dua kali : Sejajar …..

Ketika seseorang telah pernah terjatuh dan kemudian belajar dari kesalahan yang pertama kali , jatuh untuk yang kedua kalinya adalah sejajar dalam arti masih dalam batas kewajaran karena sepandai pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga.

3. Jatuh tiga kali : Kurang belajar …..

Namun .. ketika seseorang telah terjatuh satu kali dan belajar , jatuh kedua kali kemudian tersadar maka kejatuhan untuk ketiga kali adalah murni kesalahan dari seseorang itu sendiri yang kurang / tidak mau / mungkin juga kurang belajar.

4. Jatuh empat kali : Minta dihajar …..

Yang terjadi selanjutnya adalah akan menempatkan seseorang kedalam batas kewajaran yang minta dihajar / diberi pelajaran, karena sudah jatuh satu , dua , tiga kali tidak juga sadar dan mau belajar, hal tersebut dilakukan adalah untuk memberikan efek jera dan segera memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

5. Jatuh lima kali : Modar …..

Maka setelah kesemua hal yang demikian adanya tidak juga dapat menjadikan seseorang berhenti dan atau memperbaiki kesalahan maka batas kewajaran sudah tidak bisa ditolerir lagi sehingga hal tersebut dapat membawa pelakunya kepada kehancuran dan atau kerusakan alias Modar.

“Jatuh berkali kali jelas sekali bukan orang yang pintar”Sebagai seorang manusia yang telah diberikan karunia oleh Ilahi untuk berpikir dan memahami maka sudah sepantasnyalah bagi kita untuk senantiasa membaca petunjuk dan pedoman sehingga kemudian mengamalkan apa – apa yang telah dijadikan / diturunkan / diwahyukan oleh Allaah Subhanahu Wata’ala melalui perantaran Rasul-Rasulnya.

“Ada rahmat dan ampunan serta hukuman dan pembalasan”Didalam Al Quran telah terdapat pedoman dan petunjuk serta cahaya ke jalan yang benar dan lurus serta pemberi kabar gembira kepada orang orang yang beriman dan peringatan kepada orang orang yang tidak beriman.

Apa apa yang telah Allaah Subhanahu Wata’ala ciptakan dilangit dan dibumi ini adalah semata – mata untuk manusia dan makhluk lainnya, tidak ada yang sia – sia dan atau tidak ada yang percuma apa yang Allaah Subhanahu Wata’ala ciptakan didunia ini, semua berguna serta bermanfaat baik itu untuk memberikan berkah , rahmat dan kabar gembira maupun untuk memberikan peringatan dan pembalasan kepada mereka yang tidak beriman.

Masing masing telah diberikan porsi tertentu dengan ukuran tertentu dan dengan waktu yang telah ditentukan , apabila sudah datang masanya maka tidak ada yang dapat menolak Karunia dari Nya pun demikian tidak ada yang dapat mencegah pembalasan dari Nya.

Setiap orang dan setiap makhluk memiliki peranan penting bagi keseimbangan alam semesta, kita sebagai makhluk yang diberikan karunia Ilahi lengkap dengan akal pikiran maka sudah sepantasnyalah menyandang gelar Khalifah di muka bumi Nya.

Lantas jika kemudian manusia terjatuh dan terus terjatuh ke dalam lubang yang sama serta terperosok kedalam jurang yang sama ,  dimanakah letak karunia Ilahi yang dimiliki oleh manusia …..? dimanakah akal dan pikiran kita …?

Sudahkah kita menjadi makhluk yang mau memahami , melihat dan mendengar Ayat – Ayat Allaah Subhanahu Wata’ala ataukah sebaliknya …. ?

Wallahu A’lam

Share this post

Post Comment